Teenagers

Hai gaiss... welkam bek on my blog. Kali ini gue bakal kasi kalian sebuah short story. Sebenernya ini short story terinspirasi dari... pokoknya someone lah yaaa :D. Yaudah deh, cekidot!

TEENAGERS

CAST:
  • Audrey (17)
  • Lian (18)
  • Chandra (18)
  • Fakhri (18)
  • Reno (18)
  • Dyaksa (18)
  • Satya (17)
  • Arya (17)
  • Arsyal (17)
  • Aulia (17)
  • Others


PROLOGUE

Agustus, 2016

My Boyfie incoming call

"Halo"
"Pagi, cantik."
"Ini udah sore, Syal."
"Masa sih? Tapi di sini masih jam 5 tuh."
"Ya jam 5 sore. Kamu ngapain sih, telepon aku sore - sore?"
"Emangnya gak boleh ya? Kalo aku telepon pacar sendiri?"
"Ya bolehlah... kenapa sih?"
"Hehe... Mau aku ngomong langsung atau basa - basi dulu?"
"Ngomong langsung aja."
"Yakin? Emangnya gak bakal kangen sama suara aku?"
"Hmmh-_-, kalo kamu banyak ngomong terus, jatohnya juga basa - basi."
"Hehehe..."
Sunyi. Tak ada bunyi yang terdengar dari seberang sana.
"Syal? Kamu ngapain sih? Masih disitu kan? Hallooo?"
"Arsyal!"
"Kamu kemana sih? Aku matiin lho teleponnya."
"Di, aku mau ngomong."
"Ya ngomong aja."
"Tapi janji ya, kamu gak akan marah."
"Kenapa sih, Syal?"
"Kamu janji dulu."
"Ya kenapa dulu. Kamu ada masalah? Ngomong aja."
"Mmm... kita break dulu, ya?"
"Maksud kamu?
"Ya hubungan kita break."
"Kenapa? Kok tiba - tiba?"
"Sebenernya aku udah mikirin ini dari dulu.Maaf gak ngediskusiin dulu sama kamu. Maaf aku langsung ambil keputusan gitu aja."
"Alasan kita break apa?"
"Kamu kan tau, dua tahun lagi kita bakal masuk universitas. Kita harus fokus sama pendidikan masing - masing. Apalagi karena LDR yang bikin pemikiran aku bulat untuk break dulu sama kamu."
"Justru karena kita LDR, kita gak perlu break." Zat cair yang sedari tadi kutahan, menetes juga.
"Justru karena kita LDR, kita harus break. Aku makin gak bisa ngawasin kamu, Di. Kesibukanku di sini makin numpuk. Kamu juga pasti sama. Kita makin gak ada waktu satu sama lain. Aku pikir ini keputusan terbaik."
"Syal, Sabtu ini aku ke Malang. Aku mau ngomong sama kamu." Sambungan telepon itu ku akhiri. Aku sedih. Dan tentunya marah.

PROLOGUE END.
:":":"

:":":"

:":":"

Namaku Audrey. Orang - orang yang dekat denganku biasa memanggil Odi. Aku duduk di bangku kelas 11. Umurku 17 tahun. Aku tinggal di Bandung bersama Ayah dan Ibuku. Ayahku seorang direktur di sebuah perusahaan swasta. Dan dia dipindah tugaskan ke Bandung. Sebelumnya, kami tinggal di Malang. 
Kami pindah ke Bandung saat aku duduk di kelas 4. Sebenarnya, aku tidak begitu keberatan untuk pindah ke Bandung. Karena aku tahu, Chandra, sahabat kecilku juga tinggal di sini. Jadi, aku meminta kepada Ayah agar kami tinggal di perumahan yang Chandra tempati. Ayahku menyetujuinya. Bahkan, rumahku dan rumah Chandra berhadapan. Walaupun hanya terhalang satu rumah. Tapi kami masih bisa mengobrol lewat balkon. 
 Aku mengenal Chandra karena rumah Eyangnya juga di Malang, sekomplek dengan rumah Eyangku. Setiap liburan, dia pasti ke sana. Karena itu aku mengenalnya. Di Malang, kami memiliki sebuah geng. Bukan geng anak - anak nakal sih. Lebih tepatnya, karena di blok C (tempat aku tinggal di Malang) ada beberapa anak yang umurnya tidak berjauhan. Diantaranya, aku dan Chandra. Ya walaupun yang tinggal di blok C itu Eyangnya Chandra, tapi setiap liburan Chandra pasti ke rumah Eyangnya. Makanya kami anggap kalau Chandra juga penghuni blok C. Mirisnya, diantara delapan anak yang tinggal di Blok C, hanya aku sendiri yang berjenis kelamin perempuan (ToT). Tapi aku sama sekali tidak merasa menderita, karena ketujuh sahabat laki - lakiku sangat menjagaku :). Justru mereka menjadikanku prioritas utama, dengan alasan aku seorang perempuan. Intinya, mereka adalah my best friends ever.
Di Bandung, aku tinggal di blok G. Sama Chandra. Kami juga satu sekolah. Dan dia adalah kakak kelasku. Kami beda satu tingkat. Tapi aku tindak pernah memanggilnya 'Kak, 'Mas', ataupun'Aa'. Aku hanya memanggilnya 'Chan' sama halnya dengan sahabat - sahabatku yang lain. Aku memanggil mereka dengan nama depan mereka. Sejak dulu juga begitu. Pernah mereka merasa kesal karena aku dirasa tidak sopan memanggil orang yang lebih tua hanya dengan nama depan. Tapi setelah aku memanggil mereka 'Mas', mereka malah geli sendiri mendengarnya. Mungkin karena tidak biasa.

'''''

 ''''' 

'''''

Malang, Sabtu, Agustus 2016
5.17 pm

"Terimakasih, Pak." Ucapku pada supir taksi yang sudah mengantarku dari airport.
 Lantas, kubuka gerbang rumah Yangti (Eyang Putri). Aku memasuki rumahnya tanpa permisi. Sungguh tak tau aturan memang.
"Yang...Yangti...Assalamu'alaikum."
"Waalaikum salam. Odi? Kamu kok di sini?" Jawab Yangti yang datang dari arah dapur.
"Odi kangen rumah Malang, Yang. Mau napak tilas aja, hehe." Jawabku sambil tersenyum menunjukkan gigi.
"Kangen rumahnya tapi ndak kangen penghuninya gitu?"
"Ya kangen Yangti juga dong."
"Ya wis, sekarang kamu bersih - bersih dulu. Beresin barang - barangmu. Habis itu sarapan. Yangti gorengin ayam mau?"
"Mau, Yang."
Setelah itu, aku beranjak ke atas menuju kamarku. Kamar yang selalu ku rindukan. Aku lekas mandi dan membereskan barang - barang bawaanku. Aku mengelilingi setiap sudut rumah ini. Sungguh, aku benar - benar rindu suasana rumah ini.
"Odi, sarapannya sudah siap."
"Iya, Yang. Odi turun."

TBC


Gimana gais? Boring yak? Heheh... Nanti pasti gue lanjutin kok. Tapi aku gak janji bakal apdet cepet. Ya, kalian tau sendiri gue lagi sibuk ujian. Ya udah thanks ya udah baca. Jan lupa comment, langganan, n follow yaaak... aku gak maksa kok, cuma sangat menyarankan /ya itu sama ajah-_- / Enggak deng, candaaa...  tengkyu bhabhayyy....

Komentar