Ketahanan Nasional di Bidang Politik dan Hankam dari Perspektif Kependudukan
Berdasarkan laporan yang dikeluarkan Labkurtannas Lemhannas
RI tahun 2016, Indeks Ketahanan Nasional tahun 2015 menurun secara agregat
dibandingkan tahun 2014. Gatra Politik turun dari 2,62 (Cukup Tangguh) ke 2,39
(Kurang Tangguh). Kondisi keuletan dan ketangguhan bangsa berada pada status
lemah dan bila tidak ada peningkatan yang signifikan, stabilitas nasional dapat
goyah. Kondisi ini dapat juga disebut sebagai warning.
Sebaliknya, Gatra Ketahanan dan Keamanan mengalami
kenaikan dari 2,75 ke 2,82 walaupun indeksnya masih di bawah 3 dari skala 0-5. Maknanya,
indeks ketahanan nasional yang berada pada kondisi cukup tangguh ini memerlukan
adanya peningkatan agar TAHG tidak melemahkan stabitilas dan integritas
nasional. Kondisi ini merupakan tahap awal dari kondisi moderat.
Kondisi semacam ini patut diwaspadai karena John
Naisbitt (1944) dalam Global Paradoksnya mengungkapkan bahwa dunia yang semakin
menuntut integrasi, nyatanya juga memicu adanya disintegrasi. Ideologi Weltanschaung (Pandangan Hidup) bergerak
dinamis memengaruhi bangsa-bangsa di dunia dan mengancam eksistensi ideologi
yang dianut setiap bangsa, seperti Pancasila di Indonesia. Anthony Giddens bahkan
menyebutkan bahwa globalisasi adalah “The
Run Way World”, yakni proses perubahan sosial di suatu negara turut
memengaruhi negara lain. Berbagai ideologi yang bermunculan di negara ini,
belum tentu sesuai dengan Pancasila, seperti Demokrasi Liberal, Sosial
Demokrat, maupun Ideologi Radikalisme Agama yang marak digaungkan.
Sementara itu, ke depannya, Indonesia akan dipenuhi
oleh penduduk dari beraneka generasi, yaitu X, Y, Z, dan Alpha. Tentu saja,
karakteristik dari setiap generasi akan berbeda. Generasi X, Y, dan Z lebih melihat
keutuhan NKRI dari nilai fungsional dan mengesampingkan nilai historis.
Dalam menghadapi berbagai persoalan di negara ini,
perlu dicanangkan perkembangan linkungan strategis global, baik itu di tingkat
global, regional, dan nasional. Dari sudut pandang politik, Indonesia merupakan
negara yang paling demokratis di seluruh dunia. Meski begitu, dari sudut
pandang pertahanan dan keamanan, masih banyak konflik yang terjadi di beberapa
daerah, seperti Poso dan Papua. Kasus-kasus korupsi pun turut menyeret aparat
hukum, DPR, dan oknum-oknum pejabat daerah lainnya yang merefleksikan buruknya
integritas pejabat di Indonesia.
Berbicara tentang menghadapi perkembangan lingkungan
strategis, beberapa hal yang perlu dipikirkan, di antaranya:
a)
Pada
momen ulang tahun Indonesia yang ke-100 mendatang, diharapkan warisan bangsa
masih terhidupi oleh generasi mendatang;
b)
Perkembangan
era digital, teknologi informasi, komunikasi, transportasi, media sosial,
isu-isu demokrasi, HAM, dan lingkungan hidup tidak sampai memberikan banyak
dampak negatif yang dapat melunturkan integritas bangsa:
c)
Isu-isu
mengenai kesenjangan pendapatan dan wilayah, pengaruh ideologi asing, dan isu
HAM patut diwaspadai agar tidak menimbulkan disintegrasi bangsa Indonesia;
d)
Pemerintah
membangun suatu “Gerakan Nasional Desa Terpadu” yang bersifat lintas sektor,
lintas disiplin, dan lintas usaha agar penduduk desa tidak mudah dieksploitasi
oleh orang asing.
Kebijakan yang
perlu ditempuh adalah “Optimalisasi Pembangunan Nasional Berorientasikan
Kependudukan Berwawasan Ketahanan Nasional” dengan menjadikan penduduk sebagai
subjek maupun objek pembangunan melalui peningkatan kualitas dan produktivitas
SDM. Dengan begitu, penduduk Indonesia diharapkan mampu memperkokoh “bargaining position” di era globalisasi
dan ketahanan nasional Indonesia berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.
Sumber: Jurnal Kajian Lemhannas RI Edisi 26, 2016
Komentar
Posting Komentar